Bani Abbasiyah : Kemajuan dalam Ilmu Pengetahuan (Matematika, Sejarah, Ilmu Bumi dan Astronomi)

Kemajuan Bani Abbasiyah Dalam Ilmu Pengetahuan (Matematika, Sejarah, Ilmu Bumi dan Astronomi)
Ilustrasi: Kemajuan Bani Abbasiyah Dalam Ilmu Pengetahuan Matematika, Sejarah, Ilmu Bumi dan Astronomi (img: oif.omsu.ac.id)

Beberapa ilmu pengetahuan mengalami kemajuan pada masa Bani Abbasiyah, berikut penjelasannya:

A. Matematika 

Diantara ilmu lain yang dikembangkan pada masa pemeritahan Bani Abbasiyah adalah Ilmu Hisab dan Matematika. Ilmu ini dikembangkan karena kebutuhan dasar pemerintahan untuk menentukan waktu yang tepat dalam setiap pembangunan. Semua sudut harus dihitung dengan tepat, supaya tidak terdapat kesalahan dalam pembangunan gedung-gedung dan sebagianya.

Pada mulanya, ilmu matematika yang dikembangkan umat Islam berasal dari berbagai saduran dan terjemahan karya-karya bangsa Yunani-Romawi dan India. Ketika Hajjaj Ibn Yusuf menjadi gubernur di Persia, ia banyak menemukan manuskrip (naskah) ilmuwan terkenal, seperti Euclides (ahli matematika yang hidup pada tahun 300 SM) berjudul elements yang sudah diterjemahkan kemudian diserahkan kepada Khalifah Harun Ar-Rasyid. Pengetahuan umat Islam dalam bidang matematika diperkaya dengan warisan ilmu dari India, misalnya, buku berjudul Zij al-Shindhind yang diterjemahkan dan disadur oleh Muhammad bin Ibrahim al-Farazi. Karya ini kemudian diserahkan kepada Khalifah al-Manshur. Ringkasan dari buku ini kemudian disadur dan dikembangkan oleh Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780-850 M) menjadi sebuah imu hitung atau mateatika bidang al-Jabar, yang mengabadikan namanya dalam logaritma.

Al-Khawarizm-Matematika
Ilustrasi Foto Al-Khawarizm (img: aktual.com)


Diantara penemuan itu adalah penemuan angka nol, satu, dua, dan seterusnya., yang dikenal dengan sebutan nomer atau anhka Arab (Arabic Numeric). Penemuan angka inilah yang menjadikan dunia Islam menjadi sangat terkenal, hingga banyak melahirkan matematikawan terkenal, seperti al-Khawarizmi, dan lain-lain. 

B. Sejarah 

Pada masa ini, kajian sejarah masih terfokus pada tokoh atau peristiwa tertentu, misalnya, sejarah hidup Nabi Muhammad Saw. Minat pada kajian bidang ini sangat besar, sehingga para khalifah pun banyak yang memberikan dukungan moral dan material, sehingga menghasilkan karya besar dalam ilmu sejarah. Dalam perkembangan awal, para ilmuwan atau sejarawan tidak hanya menjadikan hadis berupa perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad Saw., dalam menentukan suatu hukum, juga masalah kronologis atau rangkaian peristiwa tertentu. Dari sinilah lahir karya besar yang ditulis oleh sejarawan kenamaan, misalnya, Muhammad bin isbag (w.152 H/768 M). Ia berhasil menyusun kitab sirat al Nabawiah Li Ibn Hisyam (w. 230 H/845 M). menjadi Sirab al Nabawiah li Ibn Hisyam. Ilmuwan lainnya yang juga berkecimpung di dalam bidang sejarah adalah al Wagidi (w. 298H/ 823 M), Muhammad bin Sa'ad (w. 230H/845 M) yang menulis karya berjudul al Thabaqat al Kubra sebanyak 8 (delapan) jilid, dan Abu Ubaidah (w. 825 M) berhasil menyusun Kitab sirat al Nabawiah Li Ibn Hisyam (w. 230 H/845 M). menjadi Sirab al Nabawiah li Ibn Hisyam. Ilmuwan lainnya yang juga berkecimpung di dalam bidang sejarah adalah al Waqidi (w. 298H/ 823 M), Muhammad bin Sa'ad (w. 230H/845 M) yang menulis karya berjudul al Tbabagat al Kubra sebanyak 8 (delapan) jilid, dan Abu Ubaidab (w. 825 M). 

C. Ilmu Bumi 

Dalam tradisi Islam, ilmu bumi tidak dapat dipisahkan dengan astronomi. Ahli ilmu bumi pertama dalam sejarah Islam adalah Hisyam al-Kalbi, yang termasyhur pada abat ke 9 M, khususnya dalam studinya mengenai kawasan Arab. Upaya al Kalbi ini kemudian diikuti oleh beberapa orang ahli ilmu bumi lainnya, seprti Muhammad bin Musa al Khawarizmi. al-Khawarizmi ini tidak hanya melakukan revisi (kajian ulang) mengenai teori Ptolemeaus tentang geografi, juga mengoreksinya dalam beberapa rincian. bersama 70 orang ahli bumi, al Khawarizmi membuat peta dunia (globe) pertama pada tahun 830 M. 

Dia juga dilaporkan telah mengukur volume dan keliling bumi atas perintah Khalifah Al Makmun. Diantara karyanya berjudul Al Kitab Surah al-Ard (morfologi bumi), sebuah koreksi atas karya Ptolemeaus, merupakan landasan ilmiah bagi para ahli ilmu bumi muslim sesudahnya.

Usaha Al khawarizmi dilengkapi oleh al-Muqaddasi Abu Abdillah (w. 985) dengan melakukan pengembaraan panjang selama 20 tahun mengunjungi banyak negara, sehingga menghasilkan sebuah ensiklopedi ilmu. Kemudian pada abad ke-10, al-Astakhri menerbitkan buku geografi negeri-negeri Islam dengan peta berwarna. Al-Biruni pada awal abad ke-11 masehi melengkapi karya al-Astakhri ini dengan menerbitkan buku geografi Rusia dan Eropa utara. Selain itu, al-Biruni juga memberikan sumbangan besar dalam bidang geografi dan geologi, terutama tentang ledakan geologis dan metalurgi, hingga pengukuran lintang bujur, serta metode menentukan posisi relatif suatu tempat terhadap tempat yang lain.

D. Astronomi

ilmu perbintangan atau astronomi juga mendapat perhatian serius dari para ilmuwan muslim ketika itu. Karena itu, mereka terus melakukan kajian untuk mengembangkan ilmu tersebut. Tokoh astronomi Islam pertama adalah Muhammad Al-Fazani. iya mengoreksi tabel yang ada berdasarkan teks astronomi India Shiddanta yang ditulis oleh Brahmanagupta. Kitab ini merupakan rujukan utama hingga masa Khalifah Al Makmun. Iya juga mengarang beberapa syair astronomis dan dikenal sebagai pembuat astrolob atau alat yang dipergunakan untuk mempelajari ilmu perbintangan pertama di kalangan muslim.

Selain Al Fazani, banyak ahli astronomi yang bermunculan saat itu, di antaranya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (w.847 M). Selain sebagai seorang astronom, iya juga seorang ahli matematika. Dialah pembuat tabel astronomi Zij as Sindi (tabel India) yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Adelard dari Bath dan sangat populer di Eropa pada abad pertengahan.

Sementara itu, Habasyi al-Habib al-Marwazi telah melakukan observasi sejak usia 15 tahun. Ia memimpin penyusunan 3 tabel Zij al-Makmun (tabel Al-Makmun) pada masa pemerintahan Khalifah Al-Makmun. Tabel pertama mengkritik metode Al-Khawarizmi, kedua menulis tentang al-Zij al-Mumtahan, ketiga al-Zij asy-Syah. Al-Mawarzi juga menulis beberapa karya astronomi yang dikutip dalam Fihrist (indeks) karya al-Nadim. Selain mereka, masih banyak lagi astronom muslim yang hidup pada zaman pemerintahan Abbasiyah; misalnya, al-Farghani, al-Battani, al-Biruni, Abdurrahman as-Sufi, yang menulis banyak buku tentang astronomi, seperti Al-Kawakib (planet-planet), al-Tazkirah (pengingat), dan Matarib al-Syu'arat (tempat-tempat sinar). iya juga mencatat observasi astronomi atas ribuan bintang dan membuat gambar banyak planet.


Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code