Macam-macam Akad dalam Transaksi Bisnis Syariah

Macam akad dalam bisnis syariah, akad-akad dalam bank syariah
Img: qazwa.id


Kangipul.xyz- Macam-macam Akad dalam Transaksi Bank Syariah, Pada dasarnya akad-akad ini berlaku dikalangan para masyarakat tanpa melibatkan bank, namun dalam transaksi perbankan, akad-akad ini juga berlaku. Jadi untuk memahami lebih jauh tentang definisi dari akad-akad yang ada pada transaksi bank maupun non bank, mari kita pahami bersama akad-akad berikut:

A. Akad Mudhorobah

Mudharabah berasal dari kata dharb artinya memukul atau lebih tepatnya proses seseorang memukulkan kakinya dalam perjalanan usaha. Atau dinamakan mudhorobah, karena memiliki arti berjalan di atas muka bumi yang biasanya dinamakan bepergian. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam QS. An-Nisa' : 101:


وَاِذَا ضَرَبْتُمْ فِى الْاَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلٰوةِ ۖ اِنْ خِفْتُمْ اَنْ يَّفْتِنَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ اِنَّ الْكٰفِرِيْنَ كَانُوْا لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِيْنًا


Artinya: "Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu meng-qasar salat, jika kamu takut diserang orang kafir. Sesungguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu."

Secara teknis mudhorobah adalah kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shohibul mal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola (mudhorib). Keuntungan usaha dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan kerugian ditanggung secara proporsional dari jumlah modal, yaitu oleh pemilik modal. Kerugian yang timbul disebabkan oleh kekurangan atau kelalaian pihak pengelola, maka pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

Adapun menurut undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah, mudharabah yaitu akan kerjasama suatu usaha antara pihak pertama (malik, shohibul mal, atau bank syariah) yang menyediakan seluruh modal dan pihak kedua ('amil, mudhorib, atau nasabah) yang bertindak selaku pengelola dana dengan membagi keuntungan usaha sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan dalam akad, sedangkan kerugian ditanggung sepenuhnya oleh bank syariah kecuali jika pihak kedua melakukan kesalahan yang disengaja, lalai, atau menyalahi perjanjian.

Perjanjian mudharabah dapat berupa perjanjian formal dan informal, tertulis maupun lisan. Dalam sudut pandang Alquran, ditekankan pada perjanjian tertulis. artinya lebih baik perjanjian mudharabah dilakukan secara tertulis dan adanya saksi yang memadai, sehingga dapat terhindar dari kesalahpahaman dan persengketaan di kemudian hari. Hal ini termasuk pula yang ditekankan dalam QS. Al-Baqarah: 282-283:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأخْرَى وَلا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا وَلا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلا تَرْتَابُوا إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلا تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلا شَهِيدٌ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (٢٨٢) وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ (٢٨٣)


Artinya: "282. Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa, maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. 283. Dan jika kamu dalam perjalanan sedang kamu tidak mendapatkan seorang penulis, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang. Tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya. Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, karena barangsiapa menyembunyikannya, sungguh, hatinya kotor (berdosa). Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." 

Mudharabah terbagi menjadi dua; 

1. Mudharabah Muthlaqah (investasi tidak terikat)

Yaitu mudhorobah yang jangkauannya luas. Transaksi ini tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan wilayah bisnis. Di sini shahibul maal memberikan keleluasaan kepada mudharib untuk melakukan usaha sesuai kehendaknya, tetapi sejalan dengan prinsip syariah, dengan modal yang diberikan kepadanya.

2. Mudharabah Muqayyadah

Yaitu kebalikan dari jenis mudhorobah yang pertama. Dalam mudharabah jenis ini, mudhorib terikat oleh persyaratan yang diberikan oleh shahibul maal dalam meniagakan model yang dipercayakan kepadanya. Persyaratan bisa berupa jenis usaha, tenggang waktu melakukan usaha, dan wilayah niaga.

Untuk mudhorobah yang tidak terbatas (mudharabah muthlaqah), mudharib harus diberikan pemerintah dan wewenang untuk melakukan hal-hal yang diperlukan dalam melakukan usaha. Seluruh pengeluaran rutin yang berhubungan dengan mudharabah, yang bukan pengeluaran pribadi mudharib akan dibebankan ke dalam akun mudharabah. Mudharib tidak diperbolehkan untuk melakukan perhitungan ulang atau menentukan angka mutlak terhadap keuntungan di muka, keuntungan akan dibagi antara shahibul maal dan mudharib sesuai dengan proporsi yang telah disetujui dimuka dan tercantum secara jelas pada perjanjian mudharabah. 

Semua pembagian laba yang dibagikan sebelum adanya keputusan final tentang perjanjian mudharabah akan dianggap sebagai sesuatu yang ditentukan dimuka. Segala kerugian terjadi karena risiko bisnis harus dibebankan terhadap keuntungan sebelum dibebankan terhadap modal yang dimiliki oleh shahibul maal. Prinsip umum adalah bahwa shahibul maal hanya menanggung resiko modalnya, sementara resiko mudhorib hanyalah usaha dan waktunya. Itu sebabnya mengapa mudharabah seringkali disebut kerjasama yang saling menguntungkan.

Kewajiban shahibul maal dalam perjanjian mudharabah terbatas (mudharabah muqayyadah) pada kontribusi modalnya. Hal ini merupakan kewajiban. Hal ini merupakan poin penting dalam perjanjian mudharabah, karena tidak tepat apabila shahibul maal sebagai partner pasif dengan kewajiban tidak terbatas. Mudharib tidak diperkenankan untuk melakukan bisnis lebih dari modal yang disetor oleh shahibul maal. Jika ia melakukannya atas kehendak sendiri, dia tidak berhak atas keuntungan tersebut dan juga bertanggung jawab terhadap kerugian yang terjadi. Apabila mudhori yang memiliki modal dengan jumlah tertentu dalam perjanjian mudharabah, dia akan menerima seluruh keuntungan sesuai dengan porsinya sesuai dengan yang sudah disepakati. Mudharabah akan berakhir apabila jangka waktu habis, selesainya usaha yang dijalankan, atau kematian salah satu pihak.


B. Akad Musyarakah

Secara etimologis, musyarakah adalah penggabungan, percampuran atau serikat. musyarakah berarti kerjasama kemitraan atau dalam bahasa Inggris disebut partnership.

Adapun secara terminologis, musyarakah adalah kerjasama usaha antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

Menurut undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah, masyarakat yaitu akad kerjasama di mana Dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu yang masing-masing pihak memberikan porsi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan akan dibagi sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung sesuai porsi dana masing-masing.

Syirkah disyariatkan berdasarkan kitab suci Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah, dan Ijma'. Alloh berfirman dalam QS. an-Nisa' (4): 12:


وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ اَزْوَاجُكُمْ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهُنَّ وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْنَ بِهَآ اَوْ دَيْنٍ ۗ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّكُمْ وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوْصُوْنَ بِهَآ اَوْ دَيْنٍ ۗ وَاِنْ كَانَ رَجُلٌ يُّوْرَثُ كَلٰلَةً اَوِ امْرَاَةٌ وَّلَهٗٓ اَخٌ اَوْ اُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُۚ فَاِنْ كَانُوْٓا اَكْثَرَ مِنْ ذٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَاۤءُ فِى الثُّلُثِ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصٰى بِهَآ اَوْ دَيْنٍۙ غَيْرَ مُضَاۤرٍّ ۚ وَصِيَّةً مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَلِيْمٌۗ


Artinya: "Dan bagianmu (suami-suami) adalah seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika mereka (istri-istrimu) itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya setelah (dipenuhi) wasiat yang mereka buat atau (dan setelah dibayar) utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan (setelah dipenuhi) wasiat yang kamu buat atau (dan setelah dibayar) utang-utangmu. Jika seseorang meninggal, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau seorang saudara perempuan (seibu), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersama-sama dalam bagian yang sepertiga itu, setelah (dipenuhi wasiat) yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) utangnya dengan tidak menyusahkan (kepada ahli waris). Demikianlah ketentuan Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun."

Dalam ayat lain yaitu QS. Shod (38): 24:


قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ اِلٰى نِعَاجِهٖۗ وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ الْخُلَطَاۤءِ لَيَبْغِيْ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَقَلِيْلٌ مَّا هُمْۗ وَظَنَّ دَاوٗدُ اَنَّمَا فَتَنّٰهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهٗ وَخَرَّ رَاكِعًا وَّاَنَابَ ۩


Artinya: "Dia (Dawud) berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk (ditambahkan) kepada kambingnya. Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; dan hanya sedikitlah mereka yang begitu.” Dan Dawud menduga bahwa Kami mengujinya; maka dia memohon ampunan kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat."

Di dalam sunnah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Allah berfirman: "Aku ini yang ketiga dari 2 orang yang berserikat, selama salah seorang diantara mereka tidak menghianati temannya. Apabila salah seorang telah berkhianat terhadap temannya, Aku keluar dari antara mereka berdua."

Syirkah (musyarakah) sepakati oleh kalangan fuqaha akan kebolehannya selagi memenuhi rukunnya, yaitu ijab dan qobul untuk memperjelas bentuk transaksinya.

Ada dua jenis Syirkah atau Syarikah yaitu Syaritul Milk (yang bersifat non-contractual) dan Syirkatul 'Uqud (yang bersifat kontraktual). Dalam Syirkatul Milk terjadi kepemilikan bersama terhadap suatu aset antara dua orang atau lebih tanpa harus membentuk kerjasama yang sifatnya formal. contohnya adalah dua orang atau lebih menerima warisan terhadap suatu aset yang sama misalnya berupa bangunan. Selama bangunan tersebut belum dijual dan dibagi, maka terjadi kepemilikan secara proporsional, tergantung hak waris masing-masing. aset yang menjadi objek kepemilikan bersama tersebut sebenarnya bisa dibagi, namun Para pemilik tetap memutuskan memiliki secara bersama, Makassar kah semacam ini disebut sebagai Syirkah Ikhtiariyyah (sukarela). Apabila aset yang menjadi objek kepemilikan bersama tersebut memang tidak bisa dibagi, maka disebut syirkah jabariyah.

Syirkah 'Uqud atau kerjasama secara kontraktual luas digunakan dalam dunia usaha, karena kerjasama semacam ini dengan sengaja dibentuk oleh dua orang atau lebih untuk mengikatkan diri dalam suatu kerjasama untuk berbagi dalam keuntungan maupun berbagi dalam menanggung resiko. Keuntungan dalam syirkatul 'uqud dibagi dalam proporsi yang disepakati di depan, sedangkan kerugian ditanggung secara proporsional berdasarkan proporsi modal yang disetor masing-masing pihak.

Kerjasama syirkah dapat dilakukan secara verbal, tetapi dianjurkan untuk dilakukan secara tertulis, agar tidak terjadi perselisihan dan persengketaan bisnis. Hal ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa taala dalam QS. Al-Baqarah (2): 282-283.

Syirkah 'Uqud merujuk kepada dua orang atau lebih melakukan akad untuk bergabung dalam suatu kepentingan harta dan hasilnya berupa keuntungan. Syirkah 'Uqud berbagi kepada beberapa bentuk:

1. Syirkah al-'inan.

Yaitu kontrak antara dua orang atau lebih. setiap pihak memberikan satu porsi dari keseluruhan dana dan turut aktif dalam bekerja. Kedua pihak membagikan keuntungan dan kerugian sebagaimana telah disepakati di antara mereka. Namun pembagian setiap pihak, baik dalam dana maupun kerja atau bagi hasil, tidak harus sama dan serupa, sesuai dengan kesepakatan mereka.

2. Syirkah al-mufawadhah

Yaitu kontrak kerjasama antara dua orang atau lebih. Setiap pihak memberikan suatu bagian dari keseluruhan dana dan turut aktif dalam kerja. Setiap pihak membagi keuntungan dan kerugian secara sama. Dengan demikian, syarat utama dari jenis musyarakah ini ialah kesamaan dana yang diberikan, kerja, tanggung jawab, dan beban utang dibagi oleh masing-masing pihak.

3. Syirkah al-'amal

Yaitu kontrak kerjasama dua orang yang seprofesi untuk menerima pekerjaan secara bersama dan membagi keuntungan dari pekerjaan itu. Misalnya, kerjasama dua orang arsitek untuk menyiapkan sebuah proyek, atau kerjasama dua orang penjahit untuk menerima order pembuatan pakaian seragam untuk sebuah kantor. Al-musyarakah ini disebut juga musyarakah abdan /atau sama'i.

4. Syirkah al-wujuh.

yaitu kontrak antara dua orang atau lebih yang memiliki reputasi dan prestise yang baik serta ahli dalam bisnis, mereka membeli barang secara kredit dari suatu perusahaan dan menjual barang tersebut secara tunai. mereka membagikan keuntungan dan kerugian berdasarkan jaminan kepada penyedia barang yang disiapkan oleh setiap rekan kerja. 

Sayyid Sabiq berikan definisi syirkah al-wujuh yaitu dua orang atau lebih membeli suatu barang tanpa modal, melainkan Samata perpegang kepada nama baik dan kepercayaan para pedagang kepada mereka. Syirkah ini disebut juga syirkah tanggung jawab tanpa kerja dan modal.

C. Akad Musaqah

Secara etimologis, al-musaqah berarti transaksi dalam pengaliran. Sedangkan secara terminologis terminologis, al-musaqoh adalah penyerahan sebidang kebun pada petani untuk digarap dan dirawat dengan ketentuan bahwa petani mendapat bagian dari hasil kebun itu.

D. Akad Muzara'ah

Secara etimologis, muzara'ah berarti kerjasama di bidang pertanian antara pemilik tanah dengan petani penggarap. Adapun dalam terminologis muzara'ah adalah penyerahan tanah kepada seorang petani untuk digarap dan hasilnya dibagi dua.

E. Akad Mugharasah

Secara terminologi, al-mugharasah berarti transaksi pohon. Menurut terminologi fiqih, al-mugharasah berarti penyerahan tanah pertanian kepada petani yang pakar dalam bidang pertanian, sedangkan pohon yang ditanam menjadi milik berdua (pemilik tanah dan petani).

Sumber: 

Madani, Hukum Bisnis Syariah, 137-145.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code