Perkembangan Ilmu Kalam, Kedokteran dan Ilmu Kimia Pada Masa Bani Abbasiyah

Perkembangan Ilmu Kalam, Kedokteran dan Ilmu Kimia Pada Masa Bani Abbasiyah
Image: saa-unida-gontor
 
Bidang ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa Bani Abbasiyah antara lain adalah Ilmu Filsafat yang pembahasannya sudah saya sajikan dalam tulisan Kemajuan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Dinasti Bani Abbasiyah.

 

B. Ilmu Kalam

Akulturasi budaya yang disebabkan oleh mengglobalnya Islam sebagai agama dan peradaban, menimbulkan tantangan-tantangan baru bagi para ulama. Kaum Mu'tazilah (rasionalis muslim) adalah pembela gigih terhadap serangan Yahudi, Nasrani dan Wasani. Karena itu, golongan muktazilah memberi andil besar dalam menciptakan ilmu kalam.

Menurut A. Hasymy, lahirnya ilmu kalam karena dua faktor: Pertama, untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat, seperti halnya musuh memakai senjata itu. Kedua, karena semua masalah, termasuk masalah agama, setelah berkisar dari pola rasa kepada pula akal dan ilmu. Di antara para pelopor ilmu kalam yang terbesar yaitu Washil bin Atha, Baqillani, Asyary, Ghazali, Sajastani, dan lain-lain.

Selain ilmu-ilmu agama yang telah berkembang pada masa Bani Abbasiyah, seperti dijelaskan terdahulu, juga terdapat ilmu-ilmu lain yang juga tidak kalah pentingnya yang berkembang saat itu, seperti ilmu qiroat, ilmu bahasa dan sastra, tata bahasa, ilmu tasawuf.

C. Ilmu Kedokteran

Ilmu kedokteran merupakan salah satu ilmu yang mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa Bani Abbasiyah. Pada masa itu telah didirikan apotek yang pertama di dunia, yaitu tempat menjual obat. Disamping itu juga telah didirikan sekolah farmasi. Sekolah kedokteran dilengkapi dengan rumah sakit sehingga menjadi lembaga yang menggabungkan usaha penyembuhan dengan pengajaran obat-obatan, Farmakologi, dan bidang-bidang yang terkait. Pada awal Al Makmun para apoteker telah diwajibkan menempuh ujian sebagaimana para tabib. Hujan ini dilaksanakan atas perintah Khalifah, karena telah terjadi kesalahan yang dilakukan oleh dokter, sehingga pada tahun 931 M diadakan ujian massal bagi seluruh dokter yang ada dalam negeri. kemudian pemerintah mengeluarkan ijazah resmi untuk para dokter yang lulus ujian. Selain itu dihapuskan para tabib yang kurang mampu dan tabib-tabib yang palsu.

Pada awal abad ke-9 Harun ar-rasyid mendirikan rumah sakit Islam dengan mencontoh rumah sakit yang ada di Persia. Tidak lama setelah itu diikuti pendirian 34 rumah sakit Islam di seluruh dunia Islam. Tokoh-tokoh Islam yang terkenal dalam dunia kedokteran antara lain adalah Al-Razi. Iya adalah seorang ahli fikir asli dan ahli klinik. Menurut cerita, ketika ia mencari tempat yang paling baik untuk sebuah rumah sakit besar, iya menggantungkan keratan-keratan daging di berbagai tempat. Di mana keraton-keraton daging yang paling lama bertahan tidak busuk, di situlah dimiliki oleh Allah untuk dijadikan sebagai tempat rumah sakit. Iya dianggap sebagai orang yang menemukan benal pontanel untuk dipergunakan dalam ilmu bedah. karangan ar-razi yang terpenting adalah Al-Hawi yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin tahun 1279 M. Karangan ini berabad-abad lamanya mempunyai pengaruh besar dalam pikiran dunia barat.

Nama lain yang gemilang di dunia kedokteran adalah Ibnu Sina. Caranya yang berbentuk ensiklopedia Al Qanun fi al thibb, yang diterjemahkan orang dengan nama Canon, dianggap sebagai bahan terbaik dalam bidang kedokteran di perguruan-perguruan Eropa. Karangan lain yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris Materia Medica memuat kira-kira 760 obat-obatan, dipakai sebagai pedoman utama untuk ilmu kedokteran barat pada abad ke-12 sampai dengan abad ke-17 M. Dengan demikian tidak mengherankan jika potret Ibnu Sina dan Al-Razi dijadikan hiasan di ruang besar fakultas kedokteran universitas Persia.

D. Ilmu Kimia

Ilmu kimia juga termasuk salah satu ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh kaum muslimin. Dalam bidang ini mereka memperkenalkan eksperimen objektif, hal ini merupakan suatu perbaikan yang tegas dari cara spekulasi yang ragu-ragu dari Yunani. Mereka melakukan pemeriksaan dari gejala-gejala dan mengumpulkan kenyataan-kenyataan untuk membuat hipotesa dan untuk mencari kesimpulan kesimpulan yang benar benar berdasarkan ilmu pengetahuan.

Diantara tokoh kimia adalah Jabir bin Hayyan. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan menggunakan obat rahasia. Ya Bun mencurahkan seluruh tenaganya untuk meneliti hal itu. Iya mengetahui cara membuat asam belerang, asam sendawa dan Aqua regia yang dapat menghancurkan emas dan perak. Selain itu ia telah memperbaiki teori Aristoteles mengenai campuran logam, sehingga teori-teori itu berlaku hingga zaman permulaan ilmu kimia modern. Selain itu kedokteran dan kimia masih banyak yang lain yang dikembangkan kaum muslimin saat itu, seperti matematika dan astronomi yang tidak diuraikan dalam tulisan ini.


Selanjutnya --->

0 Response to "Perkembangan Ilmu Kalam, Kedokteran dan Ilmu Kimia Pada Masa Bani Abbasiyah"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel