Kemajuan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Dinasti Bani Abbasiyah

Pada masa pemerintahan Bani Abbas, kegiatan pendidikan dan pengajaran mencapai kemajuan yang gemilang.
(image: alif.id)

Dinasti Bani Abbasiyah yang berkuasa sekitar 5 abad lebih, merupakan salah satu dinasti Islam yang sangat peduli di dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Upaya pengembangan Ini mendapat tanggapan atau respon yang sangat baik dari para ilmuwan. Sebab, pemerintah dinasti Bani Abbasiyah telah menyiapkan segalanya untuk kepentingan tersebut. Di antara fasilitas yang diberikan adalah pembangunan pusat pusat riset dan terjemah, seperti Baitul Hikmah, Majlis Munadzarah, Dan pusat-pusat studi lain, seperti Zawiyah, Hanqah, Kuttab, dan lain-lain, bahkan perguruan tinggi berupa Madrasah Nidzamiyah. 


Selain itu, para ilmuwan digaji sangat tinggi dan kebutuhan hidup mereka dijamin negara, sehingga mereka melakukan riset sangat serius tanpa memikirkan hal-hal lain di luar riset dan penulisan karya-karya mereka. Bahkan khalifah Bani Abbasiyah, meminta siapa saja termasuk para pejabat dan tentara yang kebetulan memasuki wilayah baru, untuk mencari naskah naskah yang berisi ilmu pengetahuan dan peradaban untuk dibeli kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dari proses inilah lambat laun umat Islam mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam yang menjadi bahan rujukan bagi ilmuwan modern.

Untuk mengetahui bagaimana para khalifah memberikan dorongan bagi para ilmuwan muslim untuk berusaha mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, dan bidang-bidang ilmu apa saja yang dikembangkan, berikut uraiannya.

Bidang-bidang Ilmu Pengetahuan yang Dikembangkan.


Bidang ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu antara lain sebagai berikut:

a. Filsafat

Proses penerjemahan yang dilakukan umat Islam pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, mengalami kemajuan cukup besar. para penerjemah saat itu tidak hanya menerjemahkan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa bangsa Yunani, Romawi, Persia, India, Syria saja, juga mentransfernya ke dalam bentuk pemikiran. Proses ini biasanya disebut dengan istilah Hellenisasi. Melalui proses ini, karya bangsa-bangsa tersebut kemudian dimodifikasi, sehingga menjadi sebuah pemikiran khas Islam. Diantara tokoh yang memberikan Anda juga penting dalam perkembangan ilmu dan filsafat Islam adalah:

1. Al-Kindi (185-260 H/801-873 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya'kub bin Ishaq bin Subbah bin Imron al-Ash'ats bin Qays al-Kindi. Iya adalah filosof muslim pertama yang berasal dari suku Kindah. Al-Kindi berusaha menjelaskan hubungan agama dengan filsafat. Ia mengatakan antara filsafat dengan agama tidak ada bertentangan dan tidak perlu dipertentangkan, karena keduanya sama-sama mencari kebenaran. Titik temu pada kebenaran inilah yang kemudian menyebabkan banyak ilmuwan muslim dan lainnya mengkaji pemikiran filsafat Yunani, Romawi sehingga filsafat menjadi salah satu hasil dan bentuk pemikiran muslim yang sangat cemerlang saat itu.

Dalam catatan M.M Syarif, Al-Kindi memiliki karya sejumlah 270 buah, berupa tulisan yang mencakup pemikiran ilmu pengetahuan lain seperti filsafat, kedokteran, logika, Ilmu hitung, musik, astronomi, psikologi, politik, dan lain-lain. karya dan pemikirannya ini memberikan motivasi bagi para filosof dan ilmuwan lain untuk melakukan kajian yang sama, sehingga ilmu pengetahuan dan filsafat mengalami perkembangan yang sangat pesat.

2. Abu Nasr al-Faraby (258-339 H/870-950 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Nasr Muhammad al-Faraby. Lahir di Wasi, sebuah desa di Farab wilayah Transoxania. Ia merupakan salah satu filsuf yang memiliki wawasan pengetahuan cukup luas. Hal ini dapat dilihat dari karya dan pemikirannya dalam Fusus al-Hikam, al-Mufarriqat, Ara'u ahl al-Madinah al-Fadhilah dan lain-lain. Diantara pemikirannya yang sangat cemerlang dalam bidang filsafat adalah filsafat emanasi (pancaran).

3. Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Ali Husein bin Abdillah bin Sina. Lahir di Afsyana, sebuah tempat di dekat kota Bukhoro. Ibnu Sina adalah salah satu seorang ilmuwan dan filosof muslim yang gemar mencari ilmu pengetahuan. Pengetahuan ilmiahnya melewati batas-batas tempat kelahirannya, sehingga Ibnu Sina menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, selain filsafat.

Di antaranya kedokteran, yang kemudian dituangkan dalam bentuk karya yang sangat monumental yaitu al-Qanun fi Al-Thibb (ensiklopedia kedokteran). Karya ini menjadi bahan rujukan keilmuan dan dokter dunia hingga abad ke-18 M. Di antara pemikiran filsafat yang dikembangkannya adalah filsafat jiwa, filsafat wahyu dan Nabi, serta filsafat wujud. semua pemikiran itu menjadi bahan diskusi para filosof muslim kemudian.

4. Ibnu Bajjah (w. 533 H/1138 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Yahya al-Sha'igh. Di barat dikenal dengan nama Avempace. Iya lahir di Saragossa, Spanyol. Selain menguasai filsafat, Ibnu Bajjah juga menguasai tata bahasa dan sastra Arab dengan bagus. Karenanya wajar kalau kemudian ia memiliki banyak karya. Diantara karyanya adalah Risalatul Wada, Akhlak, kitab al-Nabat, risalah al-Ittishal al-Aql bil-Insan, Tadbir al-Mutawahhid, kitab al-Nafs, risalah al-Ghayah al-Insaniyah, dan lain-lain.

5. Ibnu Thufail (w. 581 H/1186 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Muhammad bin Muhammad bin Thufail. Dia adalah seorang ilmuwan dan filsuf kenamaan pada masa itu. Selain menguasai bidang filsafat, iya juga menguasai berbagai ilmu pengetahuan, seperti kedokteran, matematika, dan sastra Arab. Di antara karya filsafat monumentalnya adalah Hay bin Yaqdzan (si hiduo bi si bangkit).

6. Al-Ghazali (1059-1111 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali. Iya lahir pada tahun 1059 Masehi di Ghazaleh, suatu kota kecil yang terletak di dekat Thus, Khurasan. Di masa kecil yang belajar di Nisapur, kota ilmu pengetahuan dan peradaban Islam terkenal dan terpenting di Khurasan. Imam Al Ghazali menuntut ilmu dari Imam al-Haramain al-Juwaini, guru besar di Madrasah Nidzamiyah Nisapur. Selain belajar ilmu kalam, dia juga banyak belajar ilmu pengetahuan lainnya, seperti filsafat, kimia, matematika, kedokteran, dan sebagainya.

Pada masa awal perkenalannya dengan dunia pemikiran kalam, iya sempat ragu atas pemikiran kalam yang ada. Hal ini dapat dilihat dari karyanya berjudul al-Munqidz min al-Dhalal (penyelamat dari kesesatan). Dalam karyanya ini sebenarnya ia ingin mencari kebenaran yang hakiki. Iya tidak mau percaya begitu saja dengan pemikiran orang lain dalam bidang kalam.

Pengembaraannya dalam bidang kalam dalam mencari kebenaran yang hakiki, juga dilakukannya dalam bidang filsafat. yang melakukan banyak pemikiran para filsuf yang dikatakannya telah rancu. Hal ini dapat dilihat dari karyanya yang hingga saat ini masih dapat ditemukan, yaitu; Tahafut al-Falasifah (kehancuran pemikiran para filosof).

Ketika Al Ghazali tidak menemukan argumen yang kuat dalam kedua bidang tersebut, akhirnya melakukan pencarian diri mengenai hakikat yang sebenarnya. Semua itu ditemukan dalam bidang tasawuf. Dalam bidang ini lagi ya baru mencapai kepuasan dalam usahanya mencari kebenaran yang hakiki.

7. Ibnu Rusyd (520-595 H/1126-1196 M)

Nama lengkapnya adalah Abu al-wali Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd, lahir di Cordova pada tahun 520 H/1126 M. Ia lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga terdidik, sehingga ia menjadi seorang yang terdidik pula. Selain menguasai filsafat, ya juga menguasai bidang ilmu pengetahuan lain seperti ilmu fiqih, bahasa dan sastra Arab, matematika, fisika, astronomi, logika, dan ilmu kedokteran. Diantara karyanya yang hingga kini masih dapat ditemukan adalah Bidayah al-Mujtahid, yang membahas ilmu hukum, dan kitab al-Kulliya, yang membahas ilmu kedokteran. Selain itu, ya juga banyak melakukan komentar terhadap hasil karya pemikiran Aristoteles, sehingga ia dikenal sebagai seorang komentator Aristoteles kenamaan, karena kritikan dan komentarnya yang sangat tajam.

Dalam bidang filsafat, pendapatnya hampir sama dengan Al-Kindi. Ia mengatakan bahwa filsafat tidaklah bertentangan dengan Islam, karena tugas filsafat adalah mengetahui pencipta alam dan segala isinya. Bahkan ia menganjurkan bahwa mempelajari filsafat itu wajib hukumnya, Karena antara Islam dan filsafat memiliki tugas yang sama, yaitu mencari tahu tentang pencipta alam semesta dan isinya ini. Kalau di barat (Spanyol) Ibnu Rusyd dikenal sebagai komentator terhadap pemikiran filsafat Aristoteles, di dunia timur, iya dikenal sebagai filsuf yang membela pemikiran para filsuf dari serangan Al Ghazali. Karyanya dalam bidang ini tertuang dalam Fashl al-Maqail fi ma baina al-Hikmah wa al-Syar'iyyah min al-Ittishal.

Pemikiran dan karya para filosof muslim yang hidup pada zaman pertengahan dan masa Bani Abbas, menjadi bahan rujukan para ilmuwan dan filsuf kemudian. dari karya mereka inilah kemudian bangsa-bangsa barat, mencapai masa kejayaan, karena mereka mulai terbuka pemikiran dan wawasannya semakin bertambah dengan menerjemahkan karya umat Islam ke dalam bahasa Yunani (Eropa). Dari situlah dikenal masa aufklarung, renaisaince, yang melahirkan suatu zaman industri yang disebut revolusi industri.

Selanjutnya ---> b. Ilmu Kalam

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code