Lembaga Keuangan Pada Zaman Dinasti Umayyah dan Abbasiyah



Ketika khalifah Ali bin Abi Thalib wafat dan diganti oleh muawiyah yang lalu diteruskan oleh anaknya Yazid, maka lembaga syuro dalam politik pemerintahan Islam telah bergeser menjadi dinasti atau kerajaan. Meskipun begitu fungsi Baitul Mal tetap berjalan sebagaimana mestinya. Kecuali bahwa mulai terjadi disfungsi pada pengeluaran-pengeluaran disebabkan tingkat ketaatan agama khalifah-khalifah pada dinasti Umayyah tidak sebagaimana pada Khulafaur Rasyidin. Hanya satu khalifah pada dinasti ini yang dikagumi karena keadilan dan kesalehannya, yaitu Umar bin Abdul Aziz, sehingga dikenal dengan Umar II. Pada masa pemerintahannya yang pendek sekitar 2,5 tahun, iya mampu mendistribusikan pendapatan negara sedemikian rupa sehingga dapat mensejahterakan rakyatnya. Konon karena sejahteranya rakyat pada masa itu sehingga susah dicari orang yang menerima zakat.


Dinasti Umayyah di Damaskus berakhir dengan naiknya dinasti Abbasiyah. Sepanjang dinasti ini, terjadi perubahan pola-pola ekonomi yang menyebabkan karena adanya kebijakan dari salah satu khalifah nya untuk menciptakan standar ruang bagi kaum muslimin. Hal itu dilakukan karena ada kecenderungan orang menurunkan nilai uang emas dan perak, serta mencampurkannya dengan logam yang lebih rendah. Dengan demikian sebenarnya sejak saat itu fungsi Baitul Mal telah bertambah, yang tadinya hanya mengeluarkan kebijakan fiskal, kini juga mengatur kebijakan moneter. sedangkan kebijakan fiskal telah dikembangkan bahkan secara ilmiah dengan munculnya kitab kitab seperti Kitabul Kharaj-nya Abu Yusuf dan kitabul Anwal-nya Qadamah bin Ja'far. Pada zaman keemasan dinasti ini, fungsi Baitul Mal telah merambah kepada pengeluaran untuk riset ilmiah dan penerjemahan buku-buku Yunani, selain untuk biaya pertahanan dan anggaran rutin pegawai.

Pada masa pemerintahan Abbasiyah mulai ada orang yang memiliki keahlian di bidang keuangan yang disebut dengan Jihbiz. Ada perbedaan dan persamaan antara Jihbiz dengan perbankan yaitu:

Persamaannya: Jihbiz dan bang sama-sama melakukan fungsi berikut:
1. Menerima simpanan dana masyarakat
2. Memberikan pembiayaan kepada masyarakat
3. Melakukan transfer uang.

Sementara perbedaannya adalah:
1. Jihbiz dikelola oleh individu
2. Bang dikelola oleh institusi

Dinasti Abbasiyah pudar kemudian diganti dengan Turki Seljuq di Asia Tenggara, Sasanid di Cordova dan Fathimiyah di Mesir dan terakhir Turki Utsmani di Istanbul. Selama ini pula fungsi Baitul Mal berkembang menjadi kebendaharaan negara dan pengatur kebijakan fiskal dan moneter. Namun yang perlu dicatat adalah bahwa pada sepanjang dinasti ini, kekayaan Baitul Mal selain dalam bentuk fisik tetapi juga uang yang tidak berubah, yaitu emas dan perak. Nampaknya etika dalam bidang keuangan tetap dijaga, seperti tidak adanya riba, sehingga nilai uang stabil, tidak pernah terjadi krisis dan kesejahteraan masyarakat terjamin.

Runtuhnya dinasti utsmaniyah di Turki menandakan menangnya kolonialisme di negeri-negeri Islam, baik secara fisik maupun pemikiran. Karena itu meskipun kemudian negeri-negeri Islam merdeka dari penjajahan, nama Baitul Mal tidak pernah muncul lagi, padahal fungsinya dalam negara tetap dilaksanakan seperti kebijakan fiskal dan moneter.

Sumber: Manajemen Bank Syariah, Dr. Muhammad

0 Response to "Lembaga Keuangan Pada Zaman Dinasti Umayyah dan Abbasiyah"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel