Memahami Konsep Ajaran Jawa (Kejawen) Tentang Kehidupan Dunia

Kangipul.xyz - Pandangan kejawen tentang makna hidup manusia di dunia ditampilkan secara rinci, realistis, logis, dan mengena di dalam hati nurani-bahwa hidup ini diumpamakan hanya sekadar mampir ngombe, mampir minum, hidup dalam waktu sekejab, dibandingkan kelak hidup di alam keabadian setelah raga ini mati. Namun, tugas manusia sungguh berat, karena jasad adalah pinjaman Tuhan. Tuhan meminjamkan raga kepada ruh, dan ruh harus mempertanggungjawabkan ”barang" pinjamannya itu. Pada awalnya, Tuhan Yang Mahasuci meminjamkan jasad kepada ruh dalam keadaan suci. 

Apabila waktu “kontrak" peminjaman telah habis, maka ruh diminta penanggungjawabannya, di mana ruh harus mengembalikan jasad pinjamannya itu dalam keadaan suci seperti semula. Ruh dengan jasadnya diizinkan Tuhan “turun" ke bumi, tetapi dibebani tugas, yakni menjaga barang pinjaman tersebut agar dalam kondisi baik dan suci setelah kembali kepada pemilik-Nya, Gusti Ingkang Akaryo Jagad. Ruh dan jasad menyatu dalam wujud yang dinamakan manusia. 

Tempat untuk mengekspresikan dan mengartikuiasikan diri manusia adalah tempat pinjaman Tuhan juga yang dinamakan bumi berikut segala macam isinya; atau disebut marcapada. Karena bumi bersifat “pinjaman” Tuhan, maka bumi juga bersifat tidak kekal. 

Betapa Maha Pemurah Tuhan, Dia bersedia meminjamkan jasad, berikut tempat tinggal dan segala isinya menjadi fasilitas manusia yang boleh digunakan secara gratis. Tuhan hanya menuntut tanggung jawab manusia agar menjaga semua barang pinjaman tersebut, serta manusia diperbolehkan memanfaatkan semua fasilitas yang Tuhan sediakan dengan cara tidak merusak barang pinjaman dan semua fasilitasnya. Itulah ”perjanjian" gaib antara Tuhan dengan manusia sebagai makhluk-Nya. 

Untuk menjaga klausul perjanjian tetap dapat terlaksana, maka Tuhan membuat rumus atau ”aturan main” yang harus dilaksanakan oleh manusia. Rumus Tuhan ini, yang disebut pula sebagai kodrat Tuhan, berbentuk hukum sebab-akibat. Pengingkaran atas isi atau klausul kontrak tersebut berupa akibat sebagai konsekuensi logisnya. Misalnya, keburukan akan berbuah keburukan dan kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Barang siapa menanam, maka ia akan mengetam. Perbuatan suka memudahkan akan berbuah sering dimudahkan. Perbuatan suka mempersulit akan berbuah sering dipersulit. ltu|ah konsep ajaran kejawen tentang kehidupan di dunia. 

Hidup di dunia ini hanya sementara. Dan, apa yang dimiliki manusia di dunia hanyalah merupakan bentuk pinjaman yang diberikan Tuhan, baik itu jasad, harta benda, maupun yang iainnya. Maka, benar apa yang dikatakan oleh salah seorang tokoh mistik kejawen, Syekh Siti Jenar, bahwa kehidupan di dunia bukanlah kehidupan sejati, melainkan kehidupan sementara. Adapun kehidupan yang sejati itu adalah kehidupan sesudah kehidupan di dunia (kehidupan sesudah mati). 

0 Response to "Memahami Konsep Ajaran Jawa (Kejawen) Tentang Kehidupan Dunia"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel