Hukum Kurban Menurut Pandangan Para Ulama Mazhab

1. Hukum Kurban Menurut Ulama

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para Ulama perihal hukum berkurban. Mayoritas fuqaha menyatakan bahwa hukum kurban adalah Sunnah Muakkadah bagi mereka yang mampu. Tetapi Abu Hanifah (seorang ulama Tabi'in) menyatakan hukumnya Wajib.

Ibnu Hazm menyatakan: "Tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang menyatakan bahwa kirban itu wajib." Sementara di dala mazhab Syafi'i muncul pendapat bahwa kurban hukumnya Sunnah 'Ain (menjadi tanggungan individu) bagi setiap individu sekali dalam seumur hidup dan Sunnah Kifayah bagi sebuah keluarga besar, menjadi tanggungan seluruh anggota keluarga, namun kesunahan tersebut terpenuhi apabila salah satu anggota keluarga telah melaksanakannya. Dalil yang dijadikan dasar tentang tidak wajibnya kurban, adalah hadits Ummu Salamah:

أذا دخل العشر وعنده أضحية يريد أن يضحّي فلا يأخدنّ شعرا ولا يقبلنّ ظفرا

"Jika masuk tanggal 10 Dzul Hijjah aldan ada salah seorang di antara kalian yang ingin berkurban, maka hendaklah ia tidak mencukur rambut dan memotong kukunya." (HR. Muslim)

Kata Berkeinginan Berkurban, menunjukkan kirban tidak wajib, sebab memungkinkan juga adanya orang yang tidak berkeinginan, padahal ia mampu.

Kata "dan salah seorang di antara kalian ingin berkurban", menurut Imam Syafi'i l, hal ini menunjukkan bahwa kurban hukumnya tidak wajib. Sebab memubgkinkan juga adanya orang yang tidak berkeinginan, meskipun ia memiliki kemampuan. Sementara itu, dalil yang menjadi pegangan Mazhab Abu Hanifah bahwa kurban hukumnya wajib adalah hadits Abu Hurairah sebagai berikut:

عن ابي هريرة أنّ رسول الله ص.م قال من كان له سعة .ولم يضحّ فلا يقربنّ مصلّانا

"Dari Abu Hurairah RA sesungguhnya Rasululloh SAW bersabda, "Barangsiapa mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan kurban, maka janganlah ia mendekati tempat sholat kami." (HR. Ibnu Majah).

Dikalangan mazhab selain Hanafiyah, perkataan Nabi "فلا يقربنّ مصلّان" (janganlah sekali-kali ia menghampiri tempat sholat kami) adalah satu celaan, yaitu tidak layaknya seseorang -yang mampu berkurban tapi tidak menjalankan- untuk mendekati tempat sholat Idul Adha. Namun hal ini bukan celaan yang berat. Lagi pula, meninggalkan sholat Idul Adha tidaklah berdosa, sebab hukumnya Sunnah, tidak wajib. Maka celaan tersebut mengandung hukum makruh, bukan haram. (HR. Ahmad, Ibnu Majah).

Hadits ini oleh Imam Hanafi difahami sebagai suatu perintah yang sangat kuat karena diikuti dengan suatu ancama, sehingga lebih tepat untuk dikatakan wajib. Dari dua pendapat tersebut, pendapat pertama lebih kuat, karena adanya dorongan yang kuat belum tentu bermakna sebagai kewajiban. Apa lagi dengan adanya hadits Muslim dari Ummu Salamah yang menyebutkan bentuk pilihan, boleh memilih berkurban dan tidak berkurban. Dengan demikian ibadah kirban disunnahkan kepada yang mampu.

Ukurab kemampuan tidak berdasarkan kepada nisab, namun disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Apabila seseorang setelah memenuhi kebutuhan sehari-harinya masih memiliki dana lebih dan mencukupi untuk membeli hewan kurban, khususnya di hari raya Idul Adha dan tiga hari Tasyriq, maka berarti dia mampu. Dalil lain yang dijadikan dasar tentang tidak wajibnya kurban, adalah hadits dari Ibnu Abbas berikut:

ثلاث هنّ عليّ فرائض وهنّ لكم تطوّع الوتر والنّحر وصلاة الضحى

"Ada tiga yang bagi kalian adalah wajib sedangkan bagi kalian sunnah, yaitu: Sholat Witir, berkurban, dan sholat Dhuha." (HR. Ahmad No. 1946)

Kemudian di dalam mazhab Syafi'i dinyatakan bahwa kirban hukumnya Sunnah Kifayah bagi sebuah keluarga besar, menjadi tanggungan seluruh anggota keluarga untuk setiap tahun, yang kesunnahan tersebut terpenuhi bila salah satu anggota keluarga telah melaksanakannya. Dalil dari mazhab Syafii asalah:

ياأيها الناس إنّ على كل أهل بيت في كل عام أضحية

"Hai sekalian manusia, sesungguhnya diperintahkan atas tiap-tiap keluarga untuk melaksanakan qurban setiap tahun." (HR. At-Tirmidzi)

Dalam mazhab Syafi'i juga dinyatakan bahwa kurban bagi setiap individu adalah sunnah 'Ain (menjadi tanggungan pribadi) sekali seumur hidup didasarkan atas kaidah umum:

الاصل في الامر لا يقتضى التكرار

"Asal dari perintah tidak menuntut adanya perulangan."

2. Kurban Dihukumi Wajib

Selanjutnya kurban bisa dihukumi wajib menurut jumhur Ulama dalam keadaan dua hal:
1. Jika telah bernadzar untuk melakukan kurban. sebagaimana hadits:

من نذر أن يطيع الله فليطعه ومن نذر ان يعصيه فلا يعصيه

"Seseorang yang bernadzar untuk melakukan ketaatan kepada Allah, hendaklah ia melakukan ketaatan itu, dan jika ia bernadzar untuk bermaksiat. maka janganlah melakukan maksiat." (HR. Al-Bukhori)

Karena kurban merupakan sebuah amal yang baik, dan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah, maka para ulama sepakat apabila ada seorang muslim bernadzar untuk berkurban, maka wajib baginya untuk berkurban, baik ia dalam keadaan kaya atau miskin.

2. Jika telah berniat untuk melakukan kurban. Menurut Imam Malik, seseorang yang membeli binatang dengan mengatakan, "Ini untuk kurban", maka wajib untuk melaksanakan niatnya itu.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code